Workspace : How You Want It

Seorang teman, penulis berusia awal 30-an sedang bingung. Ia harus mengerjakan novel barunya segera, tapi merasa begitu banyak hambatan. Salah satunya adalah, meja menulisnya saat ini sangat tidak kondusif. Meja kerjanya di kamar begitu sempit dan penuh. Dengan kamar yang tidak begitu besar, ia juga tidak mampu meletakkan meja kerja sebesar yang ia inginkan. Padahal menurutnya, kamarnya yang sekarang sudah enak untuk dijadikan tempat beristirahat sekaligus bekerja. Jendela dengan siklus udara yang memadai, bahkan sinar matahari pun bisa masuk saat pintu dibuka lebar. Masalahnya memang hanya meja kerja itu.

Bagi mereka yang bekerja di bidang non-kreatif (bukan di industri kreatif) hampir bisa dipastikan, bahwa karyawan-karyawan tidak ada yang memiliki meja kerja yang ‘cukup menarik.’ Meja atau kubikel mereka hanya dipenuhi dengan kalender, post-it pemberitahuan deadline, mungkin foto orang tersayang, folder berkas dan tempat alat tulis. Sudah. Belum lagi, berada di ruang kantor yang tertutup dan hampir tidak bisa melihat sinar matahari kecuali mereka melangkah keluar dari kantor.

Semua orang tentu memiliki kriteria meja kerja masing-masing yang nyaman untuk mereka. Beberapa orang bahkan tidak peduli meja apa yang menjadi tempat mereka bekerja setiap hari. Yang penting ada meja untuk menaruh laptop dan semua keperluan pribadi di kantor. Begitulah kebosanan dibangun dan produktivitas pun segera terganggu. Bukan mendiskreditkan mereka yang bekerja di bidang-bidang serius seperti itu, tapi meja kerja yang berkarakter tentu penting untuk mendorong kreativitas dan produktivitas.

Meja kerja yang nyaman itu penting. Meja kerja yang mampu menampung semua kelengkapan kerja, tapi tidak menjadikannya tumpukkan berdebu atau sarang nyamuk. Dekat dengan pencahayaan yang cukup. Terbuat dari material yang bagus dan konstruksinya kokoh. Kami membayangkan meja kayu jati yang panjang, namun dibuat tipis. Cukup panjang, sehingga kita bisa meletakkan majalah, buku, apapun yang kita inginkan saat itu. Sementara barang-barang yang tidak kita perlukan cukup ditaruh di tempat lain. Letakkan inspirasi-inspirasi untuk bekerja di tembok persis di belakang meja kerja, untuk membangun mood atau suasana bekerja yang kita inginkan. Letakkan tanaman, figura, lukisan, kartu pos atau hiasan-hiasan menarik lainnya. Ingat, jangan jadikan meja kerja tempat sampah.

Pastikan juga kursimu nyaman untuk duduk dalam waktu yang lama. Tingginya sesuai dengan tinggi meja. Bila ingin agak kreatif lagi, pilih furniture dengan pola warna yang kontras. Setelah dinding kamar berwarna pastel, meja kerja kayu juga didominasi warna kayu atau hitam. Barangkali kamu ingin kursi kerja dengan warna merah atau lemon yang terang. Definitely adds the fun while you are working.

But, we do realize, ada beberapa kantor yang punya aturan tegas sampai ke detail meja kerja pegawai. Suit yourself. Just adding a colorful stationery on the table, sudah jadi langkah awal untuk memberi sedikit aksen di meja kerja. Bila memang tidak banyak hal yang bisa dilakukan.  Melihat foto-foto yang kami kumpulkan di atas sebagai inspirasi, mungkin mulai sekarang kamu pun ingin meja kerja yang lebih nyaman dan membuatmu betah berlama-lama. Have a try.