The Taste-Maker: Leo Theosabrata

Di pembukaan store keempat The Goods Dept di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, pekan lalu kami menyempatkan berbincang dengan Leo Theosabrata. Salah satu dari beberapa orang yang menjadi pencetus Brightspot market, The Goods dept, dan beberapa inisiatif kreatif lainnya yang telah ‘menghidupkan’ Jakarta, dan mengubah wajah kultur urban di kota ini. And of course, kami juga menanyakan tentang personal style-nya yang sangat eklektik itu. You would understand this, if you have met him in person.

“Kami mencoba selalu memberikan pengalaman yang baru, terlebih di store yang baru ini. Terlebih, yang baru ini kita mulai menerapkan konsep yang lebih permanen untuk The Goods Dept. Because we know, we are here to stay,” jelas Leo membuka perbincangan kami. Pernyataan yang bisa dipahami. Karena mulai dari Brightspot market sampai kehadiran The Goods dept pertama kali, semuanya lebih trial and error.

Dengan semua persaingan di lingkup retail saat ini (khususnya di Jakarta, dengan semua brand internasional yang hadir), menurut Leo, memberikan pengalaman yang berbeda dalam berbelanja akan membuat betah siapapun di toko tertentu. “Hampir setengah dari store kita yang baru ini adalah cafe, it’s a good reason to hang out here as well,” lanjut Leo sambil menambahkan bahwa inisiatif kreatif dirinya dan tim (Anton Wirjono, di antaranya) tidak akan berhenti di situ. Berawal dari keinginan untuk menghadirkan retail experience yang berbeda lewat Brightspot market, Leo dan tim kini semakin mengokohkan posisi mereka, antara lain dengan menjadi perusahaan yang semakin dewasa. Bukan ‘seru-seruan’ saja, but becoming real business yang harus sustainable.

Kemunculan Leo dan tim di beberapa halaman liputan penuh majalah Monocle yang prestisius beberapa waktu lalu adalah validasi dari purpose semua inisiatif yang mereka lakukan hingga sekarang. “Bagusnya, ini semua sangat independen, jadi kami bebas melakukan apa pun dan tidak terlalu mengikuti tuntutan pasar,” lanjut Leo. Catatan tambahan, kemunculan pertama Brightspot market beberapa tahun lalu menurut Leo hadir di momen yang sangat tepat. Kini begitu banyak inisiatif serupa, yang nampaknya mengambil inspirasi dari Brightspot. Kehadiran Brightspot memancing begitu banyak local brands naik ke permukaan. “Itu juga membuktikan, saat kita melakukan semua dengan passion, pasti akan ada hasilnya,” tambah Leo.

We moved to his personal style. Sesuatu yang sudah kami amati cukup lama. That day, Leo mengenakan semacam kimono vintage yang dia beli di salah satu wilayah Jakarta dengan koleksi-koleksi vintage serunya. He was looking all dark with his ensemble, yet effortlessly stylish nonetheless.

“I enjoy fashion, tapi lebih kepada cerita di balik sebuah brand atau look. Sebenarnya mungkin tampilannya begitu-begitu saja, tapi cerita unik di balik sebuah brand bisa membuat saya tertarik. Sama seperti saat memulai Brightspot pertama kali. There is a story. While my style is very basic, it keeps changing,” papar Leo tentang kesukaannya pada gaya-gaya unik. Yang jarang kami temukan di laki-laki Jakarta kebanyakan.

“Ada harga ada kualitas. Karena itulah, saat membeli barang premium saya pasti akan memakainya setiap hari. It’s not about style, tapi karena memang it’s a good stuff. It’s about quality. Itu hukum alam, we can’t get away with that. You want a good bespoke suit, you have to pay a lot of money,” cerita Leo yang kemudian menambahkan bahwa kualitas itu hadir di berbagai spektrum. Bukan hanya pada barang premium. “I can always buy vintage stuff, dan memakai premium stuffs di saat yang sama. Karena bagi saya, the value is just the same. That’s style is all about.”

Dan saat dia tidak tahu lagi harus memakai apa? “I would wear all black,” tutup Leo.