Sartorial Man: Idris Elba & Chiwetel Ejiofor

Nama kedua aktor ini, mungkin tidak akrab di telinga siapa saja yang tidak memperhatikan perkembangan bisnis film di Hollywood. Perkenalkan, Idris Elba dan Chiwetel Ejiofor. Aktor kulit hitam yang saat ini, katakanlah, sedang di puncak karier mereka di dunia film. Masing-masing lewat sebuah film, yang menggambarkan perjuangan warga kulit hitam.

Idris Elba dipastikan lebih populer. Aktor ini malang melintang di layar lebar, memerankan peran-peran pendukung sudah cukup lama. Bagi yang memperhatikan baik-baik, ia muncul di “Thor”, bersama Chris Hemsworth. Muncul pula di “Prometheus” bersama Charlize Theron. Dan daftar film Idris sudah cukup panjang. Namun, aktor berkebangsaan Inggris dan bersuara berat ini sekarang makin dielu-elukan setelah memerankan mendiang Nelson Mandela di film “Mandela: Long Walk to Freedom.” Film ini mendapat sambutan sangat baik, dan diperkirakan akan bersaing di ajang film seperti Golden Globe dan Oscar. Idris pun nampaknya akan mendapatkan banyak nominasi. Terlepas dari kesuksesan di film itu, banyak yang memperkirakan (juga berharap) bahwa Idris akan mendapatkan peran James Bond pertama di layar lebar, yang berkulit hitam. Tentu ini dugaan yang agak muluk. Namun, tidak mustahil untuk terjadi.

Sama halnya dengan Idris, aktor Chiwetel Ejiofor juga sedang sibuk mempromosikan film terbarunya “12 Years A Slave” (juga dibintangi oleh Brad Pitt) ke penjuru dunia. Film itu pun direspon dengan baik oleh publik dan para kritikus film. Tentu itu menuntut kehadirannya di banyak karpet merah, dan otomatis semakin membuatnya terkenal di media.

Kesuksesan Idris dan Chiwetel membuat mereka mendapatkan eksposure luar biasa. Menjadi sampul majalah sampai menjadi bagian dari fashion spread prestisius. Seperti yang terjadi pada Chiwetel. Ia baru muncul di spread penuh gaya, bersama Kate Moss di edisi Desember majalah Vogue Amerika. Tentu ini dorongan yang sangat baik bagi kariernya yang sedang di puncak.

Kehadiran Idris dan Chiwetel di banyak kesempatan pun mendapat pujian, karena pilihan wardrobe yang mereka kenakan. Suit yang sesuai. Padanan maskulin, sartorial dan dewasa. Baik itu resmi maupun kasual. Begitu banyaknya acara yang harus dihadiri, membuat wardrobe mereka pun menjadi target para fotografer. Sejauh ini, mereka belum pernah mengecewakan. Gaya klasik dan modern jadi pilihan utama. Potongan jas serta celana yang ramping, namun tidak mencekik postur tubuh. Seperti bagaimana seharusnya, sebuah setelan harus terlihat pada tubuh laki-laki dewasa. Patut dicontoh, guys.

Terlepas dari apakah mereka akan membawa pulang piala Golden Globe atau Oscar nantinya, mereka sudah ‘menang’ secara sartorial. For us, that’s pretty much enough.