Business, Culture and Style in Hong Kong

Berkesempatan mengunjungi Hong Kong pertengahan Januari lalu, kami membuka mata lebar-lebar untuk mencoba memahami keunikan kota ini. Di tengah cuaca yang masih sangat dingin, Hong Kong justru semakin menunjukkan karakteristisknya.

Hong Kong adalah salah satu kota di Asia yang layak ditinggali. Tahun 2011, bekas jajahan Inggris ini ada di posisi 17, sementara tahun 2013 lalu, posisinya naik menjadi 13. Berarti kemajuan yang dialami setahun saja, sudah menjadikannya salah satu kota di Asia yang benar-benar layak untuk ditinggali. Tentu saja itu berarti, dukungan untuk hidup layak dan sejahtera sudah cukup tinggi di sana.

Yang membuat Hong Kong semakin menarik, sama seperti kota-kota besar yang sukses lainnya di dunia, perpaduan bisnis dan kehadiran pengaruh budaya yang sangat kental.  Setelah puluhan tahun membangun ekonomi mereka menjadi salah satu yang paling kuat di Asia, kini Hong Kong juga gencar mempromosikan budaya mereka ke luar. Dengan festival seni dan budaya Hong Kong yang diadakan Maret ini untuk ke-42 kalinya, Hong Kong menjadi pusat kebudayaan di Asia. Bukan Jepang. Salah satunya adalah dengan adanya Art Basel yang secara rutin diadakan di Hong Kong. Dan kota ke-3 dengan pusat lelang seni terbesar di dunia, setelah New York dan London.

Hong Kong memiliki 14 museum, proyek seni di kawasan West Kowloon yang prestisius, 14 open air theater, 26 taman, 1500 taman kecil, dan 41 pantai. Bisnis berkembang sangat mudah di Hong Kong, berjuang di antara harga lahan yang semakin tahun semakin mahal. Hong Kong adalah pemilik kawasan belanja paling mahal di dunia, mengalahkan Manhattan.

Kini, masalah yang dihadapi Hong Kong adalah pencemaran udara, dan sedang diusahakan dengan proyek pengurangan emisi. Meski disebut sebagai kota yang sangat bersahabat dengan pejalan kaki, Hong Kong diharapkan juga mampu menjadi kota yang bersahabat dengan pengendara sepeda. Harga mobil dan tarif parkir yang mahal memang membuat banyak warga Hong Kong memilih kendaraan umum yang banyak jumlahnya, serta kualitas yang sangat memadai. Namun memang sejauh mata memandang, pengendara motor dan sepeda sangat kecil jumlahnya. Tempat parkir motor atau sepeda pun tak terlihat.

Hong Kong layak menjadi contoh sebuah kota yang berdiri di atas tantangan. Lanskap perbukitan tak mencegah kota ‘kecil’ dengan warga sejumlah 7 juta jiwa ini tumbuh menjadi kekuatan ekonomi terbesar di kawasan Asia. Meski penuh dengan gedung perkantoran tinggi menjulang, apartemen-apartemen tanpa adanya rumah berhalaman (rumah berhalaman hanya milik orang-orang berduit di kawasan hunian mahal), semua dibayar dengan taraf hidup yang memadai, serta lahan hijau yang banyak ditemukan, bahkan di tengah-tengah kota. Nggak heran, tingkat kematian di kota ini semakin kecil tiap tahunnya.

Bangunan-bangunan di kota ini, lama atau baru, tak hanya dibangun tapi juga diperhatikan keindahannya. Nilai sejarah bisa ditandai dengan warna, butik fashion yang glamor bisa berdiri di bawah apartemen yang biasa saja. Pusat hiburan, makanan atau fashion bisa dijangkau dengan naik tram, kereta, atau berjalan kaki sebentar saja. Dengan pengaruh besar dari Jepang, Inggris dan budaya lokal, warga Hong Kong adalah salah satu masyarakat paling stylish di dunia. Nggak heran, bisnis fashion berkembang sangat pesat di kota yang banyak memiliki pusat belanja ini.

Dengan infrastruktur yang terus dibangun, terlebih yang menghubungkan Hong Kong dengan China daratan serta Macau, Hong Kong akan semakin maju pesat dua hingga tiga tahun ke depan.

Comments

comments